MANTRA BANJAR: SUATU KOMPROMI BUDAYA

Agus Yulianto

Abstrak. Tulisan ini membahas perkembangan kebudayaan Banjar yan ditinjau dari peranan ‘mantra’. Mantra adalah rangkaian kata yang diucapkan untuk melakukan praktek magis. Mantra Banjar tumbuh dan berkembang di wilayah tenggara Kalimantan. Pertumbuhan dan perkembangan mantra Banjar sejalan dengan perkembangan pendukungnya, yaitu masyarakat Banjar. Pada awalnya, mantra Banjar lahir dari karya seni ciptaan leluhur imajinatif Banjar yang percaya pada animisme atau kepercayaan Kaharingan. Kedatangan orang Jawa dan Malayu yang berlatar ideologis Śiva-Buddha membawa warna baru untuk mantra. Kemudian, ketika Islam datang, agama baru ini menolak semua jenis mantra, penolakan ini mempengaruhi keberadaan mantra Banjar. Akibatnya, praktek ritual dengan mantra Banjar menurun, karena Islam mencapai popularitas yang luas. Namun, ternyata ada pula kesengajaan untuk menyembunyikan mantra untuk menjaga efek sakral dari mantra. Bagaimanapun, mantra tidak benar-benar menghilang. Sebagai warisan budaya Banjar, mantra masih menjadi bagian dari kehidupan mereka, mantra hidup dan tumbuh di antara orang-orang sampai hari ini.

Kata kunci: mantra, masyarakat Banjar, fungsi mantra, sakral, perubahan budaya, kompromi budaya, warisan budaya

Sumber: Naditira Widya, Vol. 5 No. 2 Oktober 2011, hlm. 133-140
Email: agusyulianto.agus@ymail.com

Wasita

Abstrak. Tulisan ini dibahas berdasarkan pada laporan penelitian etnoarkeologi Balai Arkeologi Banjarmasin yang disimpan di perpustakaan Balai Arkeologi Yogyakarta, utamanya berkaitan dengan pemilihan informan dan pemanfaatan data wawancara. Fokus studi ini adalah menemukan siapa saja informan dalam penelitian tersebut dan informasi apa yang diberikan. Cara mengetahuinya dengan melihat hasil penggalian data yang terekam dalam laporan penelitian. Dengan melihat paparan data dan memperhatikan sinkron tidaknya dengan masalah penelitian, dapat diukur seberapa besar dukungan data tersebut dalam membantu meraih tujuan. Oleh karena itu, data dapat dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu, relevan, kurang relevan, dan tidak relevan dengan masalah penelitian. Sementara itu, siapa informannya akan dibedakan berdasarkan identitasnya, sehingga muncul kategori informan sebagai pelaku budaya (penganut agama nenek-moyang, para pemimpin upacara, dan para pejabat kademangan), dan penerima warisan budaya (bukan pemeluk agama nenek-moyang dan bukan pejabat kademangan). Pemilihan informan dan informasinya penting dilakukan, karena itu akan mempengaruhi hasil penelitian. Hal inilah yang akan dicermati dalam laporan penelitian etnoarkeologi di Balai Arkeologi Banjarmasin untuk diketahui langkah-langkah yang telah dilakukan. Dengan demikian, diharapkan di masa-masa mendatang data informan dapat lebih mendukung analisis dan pembahasan tema penelitian.

Kata kunci: pemilihan informan, data, etnoarkeologi, pelaku budaya, penerima budaya, warisan budaya, laporan penelitian

Sumber: Naditira Widya, Vol. 5 No. 1 April 2011, hlm. 93-113
Email: wasita6@yahoo.com

T. M. Rita Istari

Abstrak. Ragam hiasan merupakan sarana komunikasi untuk menyampaikan suatu pesan kepada masyarakat luas. Proses penciptaannya tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan berperan sebagai media untuk memperindah suatu karya seni manusia. Kemunculan ragam hiasan di Indonesia dimulai sejak masa prasejarah. Kemudian, ragam hiasan mengalami perkembangan dari masa ke masa sampai dengan masuknya kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia. Tulisan ini membahas sejumlah ragam hias relief candi yang mempunyai makna magis-religius dan diaplikasikan sebagai motif pada kain batik. Dengan demikian, metode yang dipakai untuk kajian ini adalah deskriptif-eksplanatif dengan penalaran induktif, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan pengamatan langsung di lapangan. Hasil kajian menunjukkan masyarakat di Nusantara memiliki local genius dalam menciptakan identitas baru yang sesuai dengan kebudayaannya dari hasil perkawinan budaya lokal dan Hindu-Buddha. Gagasan semacam ini diharapkan dapat meningkatkan inspirasi dan mendorong inovasi kreasi-kreasi baru, tetapi tetap memperlihatkan karakteristik khas warisan budayanya.

Kata kunci: relief candi, ragam hiasan, local genius, motif batik, transformasi budaya, warisan budaya, identitas

Sumber: Naditira Widya, Vol. 6 No.1 April 2012, hlm.65-79
Email: ritaistari@yahoo.com