Kindai Etam Archives

Nasruddin

Abstract. There are many ethnic groups in Indonesia, until present, who are still have and maintain the use of beads as jewelry and completeness in ritual ceremonies. The bead user, Ngaju Dayak in Kalimantan, have been continued to use it during rituals such as tiwah (funeral ceremony), grave goods, and other traditional parties. Dayak community has been close with beads which are embedded on many of their daily equipment such as clothes, headdress, necklace, bag, mandau (weapon), and others. In an effort to understand the role of those beads, this study is using an ethnoarchaeological research model, a comparison of archeological data and ethnographic data. Ethnographic data play role as reference basis for assessing the cultural community in the Mirah village of Dayak Ngaju to explain the function of beads in social system.

Keywords: ethnoarchaeology, beads, Dayak Ngaju, Mirah Village

Source: Kindai Etam Vol.2 No.1 November 2016, p. 69-78

Email: undink.anaugi@gmail.com

Nasruddin

Abstrak. Seperti diketahui, sampai sekarang masih banyak kelompok etnis di Indonesia yang memiliki dan memelihara serta menggunakan manik-manik sebagai perhiasan dan kelengkapan dalam upacara-upacara ritual. Pengguna manik-manik pada sub etnis Dayak Ngaju di Kalimantan masih tetap berlangsung hingga dewasa ini, terutama digunakan pada saat upacara-upacara ritual seperti kematian (tiwah) dan penyertaan benda kubur, atau pesta-pesta adat lainnya. Masyarakat Dayak memang identik dengan manik-manik, karena banyak mewarnai keseharian mereka mulai dari perlengkapan baju, hiasan kepala, kalung, tas, mandau, dan lain-lain. Dalam upaya memahami peranan manik-manik dalam kehidupan dan tradisi suku Dayak Ngaju di Kalimantan, maka kajian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan etnoarkeologi. Data etnografi menjadi acuan dasar dalam mengkaji kebudayaan masyarakat Dayak Ngaju di Desa Mirah sebagai bahan analogi untuk menjelaskan fungsi manik-manik dalam sistem sosial  masyarakatnya.

Kata kunci: etnoarkeologi, manik-manik, Dayak Ngaju, Desa Mirah

Sumber: Kindai Etam Vol.2 No.1 November 2016, hlm. 69-78

Email: undink.anaugi@gmail.com

Nugroho Nur Susanto

Abstract. Barito river is not only economic lifeblood of local people, but also a path of cultural penetration. The purpose of this study is to depict archaeological evidence of tradition as belief from pre Banjarese, sultanate, until the Dutch colonial period along the Barito River. The study area is administratively located in Barito Selatan Regency and Barito Timur Regency, especially settlements which have access to the Barito River. This research uses descriptive analytical method with inductive reasoning. Collecting data in the field is conducted by survey (by interview and observation). Data from this important observation are presented to construct the frame of local history, diversity of traditions in the Barito River region and its tributaries. Cultural traces were from the early settlement to the era of Dutch imperialism. Through the study of this observation, it can be informed the tradition, the history, the penetration of foreign culture especially in the Barito Selatan and Barito Timur Regencies.

Keywords: Barito River, burial traditions, worship, expansion, Dutch, Dayak community

Source: Kindai Etam Vol.2 No.1 November 2016, p. 51-68

Email: nugroho.nur@kemdikbud.go.id

Nugroho Nur Susanto

Abstrak. Sungai Barito bukan saja menjadi urat nadi perekonomian, tetapi merupakan jalur penetrasi budaya. Tujuan penelitian observasi ini adalah mengemukakan bukti arkeologi dari tradisi yang juga keyakinan dari era pra Kesultanan Banjar, kesultanan, hingga kolonial Belanda di wilayah aliran Sungai Barito. Secara administrasi wilayah penelitian terletak di Kabupaten Barito Selatan dan Kabupaten Barito Timur, khususnya yang memiliki akses ke aliran Sungai Barito. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan penalaran induktif. Pengambilan data di lapangan dilakukan dengan metode survei (terdiri atas wawancara dan observasi). Data hasil observasi ini penting dihadirkan untuk menyusun perkerangkaan berupa sejarah lokal, keragaman tradisi di wilayah aliran Sungai Barito, dan anak-anak sungainya. Jejak budaya dari awal terbentuknya pemukiman, hingga era imperialisme Belanda. Melalui penelitian observasi ini, tradisi, sejarah, penetrasi budaya asing dapat diketahui, khususnya di wilayah administrasi Kabupaten Barito Selatan, dan Kabupaten Barito Timur .

Kata kunci: Sungai Barito, tradisi penguburan, tradisi pemujaan, ekspansi, Belanda, komunitas Dayak

Sumber: Kindai Etam Vol.2 No.1 November 2016, hlm. 51-68

Email: nugroho.nur@kemdikbud.go.id

Libra Hari Inagurasi

Abstract. Karawang, a regency in West Java Province, has a variety of archaeological remains from Hindu-Buddhist to Islamic and colonial characteristics such as Batujaya and Cibuaya temples, Karawang Great Mosque (Syekh Quro Mosque), old cemeteries, and old Dutch buildings. In addition, there are also sacred places called “keramat” which consist of burials and terraced structures. The remains at those “keramat” are unique and have archaeological values. The locations of those sacred burials and terraced structures are both in coastal and inland areas. The local inhabitants have been using the sacred places to perform traditional ceremony related to rice cultivation, known as hajat bumi and babarit (munjung). The aim of traditional ceremonies are pleading for abundant rice harvest and expressing gratitude for good harvest to God the Almighty. The problems to discuss here are the differences of forms and cultural characteristics of archaeological remains in coastal and inland areas. This research uses descriptive method and inductive reasoning for data analysis. The study purpose is to describe sustainability of Karawang people religion before the arrival of Islam until present day. Through this research, it is revealed that the most sacred sites in the coastal areas have archaeological remains with Islamic characteristics, while those in the inland areas tend to have pre-Islamic characteristics.

Keywords: Karawang, burial, terraced structure, coastal-inland, traditional ceremony

Source: Kindai Etam Vol.2 No.1 November 2016, p. 39-50

Email:  librainagurasi@yahoo.com

Libra Hari Inagurasi

Abstrak. Karawang adalah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat, memiliki aneka ragam tinggalan arkeologi dari yang bercorak Hindu-Buddha hingga corak Islam dan kolonial. Tinggalan tersebut adalah kompleks Percandian Batujaya dan Cibuaya, Masjid Agung Karawang (Masjid Syekh Quro), makam-makam kuno, dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda. Selain itu, di Karawang terdapat pula tempat-tempat yang disakralkan dinamakan dengan “keramat” yang memiliki tinggalan arkeologi berupa makam dan struktur berteras atau struktur berundak. Tinggalan arkeologi yang terdapat pada “keramat” merupakan  bentuk yang khas sebagai benda-benda memiliki nilai arkeologi. Keletakan makam dan struktur berteras yang disakralkan dibedakan pada dua kelompok yakni berada di daerah pesisir dan pedalaman. Tempat-tempat sakral oleh warga masyarakat digunakan sebagai tempat upacara adat yang berkaitan dengan bercocok tanam padi. Upacara adat tersebut adalah upacara hajat bumi dan babarit (munjung). Inti dari upacara adat adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya panen padi melimpah dan sebagai ungkapan rasa syukur atas panen yang telah diperoleh. Permasalahan yang diungkap adalah mengenai perbedaan bentuk tinggalan arkeologi pada tempat-tempat antara daerah pesisir dan pedalaman dan corak budayanya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan analisis data dengan penalaran induktif. Adapun tujuan penelitian adalah menggambarkan keberlangsungan religi masyarakat Karawang sebelum kedatangan Islam hingga masa kini yang dapat diamati melalui tinggalan-tinggalan budayanya. Melalui penelitian ini diketahui bahwa situs-situs yang dikeramatkan di daerah pesisir memiliki tinggalan arkeologi cenderung bercorak Islam, sedangkan di daerah pedalaman cenderung bercorak pra Islam.

Kata kunci: Karawang, makam, struktur berteras, pesisir-pedalaman, upacara adat.

Sumber: Kindai Etam Vol.2 No.1 November 2016, hlm. 39-59

Email: librainagurasi@yahoo.com

Nia Marniati Etie Fajari

Abtract. Kotabaru located in the southeast coast of Borneo Island has a fascinating history, which is characterized by the presence of Islamic empire, such as Kusan, Pagatan, Batulicin, Sebamban, and Pulau Laut. The location in the shipping line of Makassar Strait makes these empires played major role on trade network. Abundant natural resources had attracted the interest of the Dutch government to exploit coal in Pulau Laut. This historical background makes Kotabaru, particularly Pulau Laut, more interesting to explore. The problem for this research is what kind of archaeological data in Pulau Laut? This research  aims to determine the form and spatial distribution of archaeological data. This explorative research applied data collection consisting of literature and archaeological surveys in the research locus. The data found were analyzed by creating a classification based on types, ie artefacs and features. The interpretation data describe the fascinating history of Pulau Laut which associated whit empire centered in Sigam, infrastructures for the Dutch coal mining in Sebelimbingan region, and strategic location of Pulau Laut became one of the supporting factors for the human activity from the past. This shows that Pulau laut has an important role in trade and coal mining in the 19th-20th century.

Keywords: trade, coal, archaeology, Islamic empire, Sigam, Sebelimbingan, Pulau Laut

Source: Kindai Etam Vol.2 No.1 November 2016, p.11-38

Email: nia.marniati@kemdikbud.go.id

Nia Marniati Etie Fajari

Abstrak. Kotabaru yang berada di pesisir tenggara Pulau Kalimantan memiliki sejarah menarik, yang ditandai oleh keberadaan kerajaan Islam, seperti Kusan, Pagatan, Batulicin, Sebamban, dan Pulau Laut. Keletakannya yang berada pada jalur pelayaran di Selat Makassar, membuat kerajaan-kerajaan tersebut berperan besar dalam perdagangan. Faktor ketersediaan sumber daya alam yang melimpah, juga menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda untuk melakukan eksploitasi batu bara di Pulau Laut. Latar belakang sejarah tersebut membuat wilayah Kotabaru, khususnya Pulau Laut menarik untuk ditelusuri lebih dalam. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apa bentuk data arkeologi di Pulau Laut? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan sebaran data arkeologi di Pulau Laut. Penelitian bersifat eksploratif dengan tahapan pengumpulan data yang terdiri atas studi pustaka dan survei arkeologi di wilayah yang menjadi lokasi penelitian, yaitu di Desa Sigam, Sebelimbingan, Selaru, Semayap, Lontar, dan Teluk Tamiang. Data yang ditemukan dianalisis dengan membuat klasifikasi berdasarkan tipenya, yaitu artefaktual dan fitur. Analisis keruangan juga dilakukan untuk menggambarkan hubungan antarfitur yang ditemukan di satu situs. Hasil analisis menggambarkan riwayat sejarah di Pulau Laut, terkait dengan Kerajaan Pulau Laut yang berpusat di Sigam, infrastruktur pendukung pertambangan batu bara pada masa Hindia Belanda di Sebelimbingan, dan lokasi strategis Pulau Laut yang menjadi salah satu faktor pendukung aktivitas kehidupan masa lalu di wilayah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Pulau Laut memiliki peranan penting dalam perdagangan dan industri batu bara pada abad 19-20.

Kata kunci: perdagangan, batu bara, arkeologi, kerajaan Islam, Sigam, Sebelimbingan, Pulau Laut

Sumber: Kindai Etam Vol.2 No.1 November 2016, hlm. 11-38

Email: nia.marniati@kemdikbud.go.id

Sondang Martini Siregar

Abstract. South Sumatra commerce was both, by external trading between ocean and sea, and internal trading between rivers, tributaries, and lakes. The commerce has been caused the emergence and development of Hinduism-Buddhism civilization in South Sumatera. The research discusses how was the trade routes during Hinduism-Buddhism period in South Sumatra was. The research aims to determined the dispersal Hinduism-Budhism sites, and the trading routes in South Sumatra. The method used is qualitative with inductive reasoning. The research is based on an assumption that South Sumatera region was included international trading route, foreign traders came from India and China (Canton) and met in the coast of Sumatera east. Bangka Strait was the entrance of foreign ships, then traided along Musi River. Kota Kapur site, Bangka Island was a former international port. Foreign ships transit and then sailed down to the hinterland of South Sumatera. Dock remains were found in Teluk Kijing, Bumiayu and Bingin Jungut. Based on these data, it showed that the locations had ever been a transit for boads and ships whih were sailed on Musi River and its tributaries. The emergence of Hinduism-Buddhism civilization has been estimated from the 8th century. Hinduism-Buddhism civilization had spread along the Musi river, from downstream to upstream.

Keywords: route, trading, Hindu-Buddha, Musi river, downstream, upstream.

Source: Kindai Etam Vol.2 No.1 November 2016, p. 1-10

Email: siregarsondang@yahoo.com

Sondang Martini Siregar

Abstrak. Di Sumatera Selatan berlangsung perdagangan eksternal, yaitu perdagangan antarsamudra dan laut, dan perdagangan internal, yaitu perdagangan antarsungai, cabang-cabang sungai dan danau. Kegiatan perdagangan tersebut menyebabkan masuk dan berkembangnya peradaban Hindu-Buddha di Sumatera Selatan. Permasalahan yang akan dibahas dalam artikel ini adalah bagaimana jalur perdagangan pada masa Hindu-Buddha di Sumatera Selatan? Tujuan penelitian adalah mengetahui persebaran situs-situs Hindu-Buddha dan jalur perdagangan di Sumatera Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan penalaran induktif. Penelitian ini didasari pemahaman bahwa Sumatera Selatan termasuk dalam jalur perdagangan internasional, kapal-kapal asing datang dari India dan Cina (Canton) bertemu di perairan pantai timur Sumatera. Selat Bangka merupakan pintu masuk kapal-kapal asing dan selanjutnya berlayar menyusuri perairan Sungai Musi. Situs Kota Kapur, Pulau Bangka merupakan bekas pelabuhan internasional, tempat kapal asing transit, dan kemudian berlayar menyusuri pantai timur Sumatera atau berlayar ke pedalaman Sumatera Selatan. Bekas dermaga ditemukan di situs Teluk Kijing, Bumiayu, dan Bingin Jungut. Hal ini menunjukkan bahwa pada ketiga situs tersebut pernah menjadi pelabuhan transit bagi kapal yang berlayar di perairan Sungai Musi beserta cabang-cabang Sungai Musi. Masuknya peradaban Hindu-Buddha diperkirakan dimulai pada abad ke-8 Masehi. Peradaban Hindu-Buddha tersebar di daerah hilir Sungai Musi sampai dengan hulu Sungai Musi.

Kata kunci: jalur, perdagangan, Hindu-Buddha, sungai Musi, hilir, hulu

Sumber: Kindai Etam Vol.2 No.1 November 2016, hlm. 1-10

Email: siregarsondang@yahoo.com

 Page 1 of 2  1  2 »