Archive for June, 2016

Wasita

Abstrak. Karanganyar adalah situs yang berada di lahan basah. Permasalahan yang hendak dipecahkan terkait dengan situs ini adalah mengenai karakter situsnya, ancaman kerusakan dan upaya yang perlu dilakukan dalam rangka mempertahankan kelestariannya. Metode yang digunakan dalam memecahkan permasalahan tersebut adalah deskriptif dengan penalaran induktif. Metode deskriptif diimplementasikan dengan cara menggambarkan temuan yang diperoleh, menerangkan hubungannya, memprediksi, dan menyimpulkan makna. Sementara itu, penalaran induktif digunakan untuk menemukan sebab-sebab yang tersembunyi, yaitu dengan metode persesuaian. Hasil kajian yang dilakukan adalah diketahuinya karakter situs, yaitu situs pemukiman. Karakter yang diketahui ditawarkan sebagai model dalam pengembangan penelitian pemukiman lahan basah di Kalimantan Selatan. Selain itu, juga ditemukan ancaman yang selalu menghadang kerusakan situs, yaitu kebakaran lahan gambut. Berkaitan dengan hal itu, upaya pelestarian yang dapat dilakukan adalah agar pihak arkeologi bersikap proaktif dengan mendekati dan memberikan pandangan ke berbagai stakeholder lain yang membidangi dan berkepentingan menggarap lahan gambut, agar mereka turut serta melestarikan tinggalan arkeologi.

Kata kunci: lahan basah, karakter, ancaman, pelestarian

Sumber: Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, hlm. 1-18
Email: wasita6@yahoo.com

Wasita

Abstract. Karanganyar is a site which is located at swampy area. The research questions are character of the site, damaged threatening and efforts for maintainance. The method used in this research is descriptive and inductive reasoning. Descriptive method is implemented by describing the findings, explaining its relationship, predicting, and deducing the meaning. Meanwhile, inductive reasoning is used to find the hidden causes, by conform method. It is known that the site character is settlement. Then its character is offered as a model to study the settlements development in wetland. It is also found that the threats caused damage which always happened is peat fire. In that regard, conservation efforts must be proactive with approach and outlook to the various stakeholders who in charge on peat land, so they can participate to conduct archaeological conservation.

Keywords: wetlands, character, threat, conservation

Source : Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, p. 1-18
Email: wasita6@yahoo.com

Hartatik

Abstrak. Pelajau merupakan sebuah kawasan pemukiman kuna yang dikelilingi oleh sungai mati dan kini terpecah menjadi beberapa desa. Beberapa toponim menandai ramainya aktivitas pemukiman masa itu, seperti Sumur Candi, Sumur Pemandian Raja, dan Masjid Keramat Pelajau. Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran Pelajau pada masa lalu dan hubungannya dengan situs pemukiman tepi sungai bagian hulu Kalimantan Selatan seperti situs Jambu Hulu, Jambu Hilir, dan Nagara. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan penalaran induktif. Teknik pengambilan data dengan observasi, wawancara dan ekskavasi, dengan analisis data secara laboratorium, morfologi dan teknologi artefak, serta pendekatan etnoarkeologi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Pelajau merupakan pemukiman tepi sungai mempunyai peranan yang penting terhadap perkembangan perekonomian, religi dan nasionalisme di wilayah hulu Kalimantan Selatan. Dari beberapa artefak dan tradisi yang hingga kini masih digunakan, disimpulkan bahwa budaya di Pelajau masih berlanjut dari masa dahulu hingga kini, meskipun sempat terjadi keterputusan generasi dan perubahan konsep pemaknaan terhadap Sumur Candi.

Kata Kunci : pemukiman, toponim, Sumur Candi, tradisi

Sumber : Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, hlm.  19-48
Email: tatitati_balar@gmail.com

Hartatik

Abstract. Pelajau is an ancient settlement area surrounded by dead river, and nowadays it split into several villages. Some toponyms marked the high activities in the past, such as sumur candi (temple well), sumur pemandian raja (bath well of king) and Masjid Keramat Pelajau (Pelajau Sacred Mosque). This paper aims to identify the role of Pelajau in the past and relationship of Pelajau with riverbank settlement sites at the upstream of South Kalimantan such as Jambu Hulu, Jambu Hilir and Nagara. The method used is descriptive with inductive reasoning. Data are collected through observation, interviews and excavation, and analysis data are conducted by laboratory, morphology and technological artifacts, as well as ethnoarchaeological approach. Results from this study indicate that a riverbank settlement of Pelajau has an important role to the development of economy, religion and nationalism in the upstream region of South Kalimantan. Based on some artifacts and traditions which are still in use, it is concluded that the culture in Pelajau is continued from ancient times until present, eventhough there are disconnect generation and changeable concept of sumur candi (temple well) meaning.

Keywords: settlement, toponym, temple well, tradition

Source: Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, p. 19-48
Email : tatitati_balar@gmail.com

Sunarningsih

Abstrak. Penelitian tentang industri karet, baik dari proses penanaman hingga pengolahannya sudah banyak dikaji, tetapi data arkeologi tentang pabrik pengolahan karet belum banyak diteliti. Salah satu sisa bangunan pabrik pengolahan karet dari masa pemerintahan Belanda berada di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Tulisan ini akan membahas tentang keberadaan pabrik di kawasan situs tersebut yang sisa bangunannya masih dapat ditemui dan tersebar di beberapa tempat di wilayah Desa Sungai Tabuk Keramat. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui jenis bangunan pabrik yang ada di kawasan situs, dan pemilik bangunan pabrik pengolahan karet tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan penalaran induktif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei, ekskavasi, wawancara, dan penelusuran arsip. Hasil analisis terhadap data arkeologi yang didapatkan dan studi pustaka diketahui bahwa pabrik pengolahan karet yang diteliti milik Belanda dengan nama NV. Nederlandshe Rubber Unie, yang dibangun pada 1927, dengan kapasitas produksi sebesar 7500 ton per tahun. Selain bangunan pabrik pengolahan karet terdapat juga pabrik lainnya, yaitu pabrik obat, penyamakan kulit, dan pabrik ubin lantai Watanabe.

Kata kunci: pabrik pengolahan karet, Belanda, Sungai Tabuk, Kalimantan Selatan

Sumber : Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, hlm. 49-76
Email: asihwasita@gmail.com

Sunarningsih

Abstract. Researches on the rubber industry, both from the planting to the processing have been widely studied, but the archaeological data on rubber processing factory itself have been studied restictively. The remaining of Dutch rubber processing factory building is in Sungai Tabuk, Banjar regency, South Kalimantan. This paper will discuss about the existence of the factory which the rest of the buildings can still be found scattered in several places in the village of Sungai Tabuk Keramat village. The study aims to determine typology of the factory building and to find the building owners. The method used is descriptive with inductive reasoning. The archaeological data were collected by surveying, excavation, and interviews, while the written data are from the archives. The analysis of archaeological data and literature show that the rubber processing factory belonged to the Netherlands under the name of NV. Nederlandshe Rubber Unie, which was built in 1927 with production capacity of 7500 tons per year. There are also other factories i.e. a drug, tannery, and tiles of Watanabe.

Keywords: rubber processing factory, Netherlands, Sungai Tabuk, South Kalimantan

Source: Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, p. 49-76
Email : asihwasita@gmail.com

Nia Marniati Etie Fajari

Abstrak. Penelitian arkeologi di Sei Sipei dilatarbelakangi oleh laporan warga yang menemukan sejumlah barang kuno di lingkungan tempat tinggalnya. Barang kuno yang terdiri atas pecahan keramik, gerabah, dan mata uang merupakan data arkeologi yang memberikan indikasi adanya hunian dari masa lampau. Penelitian yang dilakukan di Sei Sipei, Kecamatan Martapura Kota, Kabupaten Banjar ini mengemukakan permasalahan yang terkait dengan bentuk dan sebaran data arkeologi serta kronologi hunian di situs tersebut. Penelusuran data arkeologi bertujuan untuk mengungkap aktivitas hunian kuno di situs Sei Sipei. Hasil analisis terhadap himpunan data yang ditemukan menunjukkan bahwa hunian di Sei Sipei diwarnai dengan aktivitas kehidupan sehari-hari yang terjadi pada masa Kolonial Belanda abad 19 Masehi. Lapisan budaya yang tipis dengan jumlah temuan yang tidak raya mengindikasikan bahwa hunian di Sei Sipei tidak terlalu besar atau terjadi pada kurun waktu yang singkat. Kondisi lingkungan situs yang telah mengalami kerusakan masif akibat pengembangan lahan untuk pemukiman warga saat ini menyebabkan situs tidak dapat dipertahankan.

Kata kunci: pemukiman, sungai, Sei Sipei, Martapura

Sumber : Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, hlm. 77-94
Email: niamarniatief@yahoo.com

Nia Marniati Etie Fajari

Abstract. Archaeological research in Sei Sipei was motivated by residents report who found a number of ancient items in suroundings their dwellings. The artifacts consist of ceramic (pottery and porselen) fragments and coin which indicated past settlement. The study put forward issues related to the shape and distribution of archaeological data as well as the chronology of dwelling on the site. It aims to uncover ancient residential activity at the site Sei Sipei. The analysis results indicate that the occupancy at Sei Sipei depicts with activities of daily life that occurred during the 19th century on Dutch colonial period. Cultural layer is thin with the number of findings are less so the occupy was small or in short period. The enviroment had experienced massive damage as a result of land for residential development. Therefore, the site can not be maintained.

Keywords: settlement, river, Sei Sipei, Martapura

Source: Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, p. 77-94
Email : niamarniatief@yahoo.com

Hartatik

Abstrak. Suku Dayak penghuni sisi timur Pegunungan Meratus yang dikaji dalam penelitian ini berada dalam wilayah Kecamatan Kelumpang Hulu, Hampang, Kelumpang Barat, dan Sungai Durian di wilayah Kabupaten Kotabaru. Mereka tinggal di antara lembah dan tepian sungai dalam jarak yang berjauhan. Dayak Meratus cukup unik karena sebagai suku Dayak, mereka berbahasa Banjar. Sebagian dari mereka masih menganut kepercayaan leluhur, sebagian telah menganut agama baru. Penelitian ini diawali dari permasalahan bagaimana konsep religi dan peralatan tradisional suku Dayak Meratus serta kesinambungannya dengan masa prasejarah. Adapun tujuan penelitian ini adalah membuat model penelitian etnoarkeologi untuk diterapkan pada lingkungan dan sistem budaya yang sama atau hampir sama sesuai dengan syarat analogi, dengan tujuan lebih jauh adalah sebagai data bantu dalam menganalisis dan interpretasikan aspek religi dari temuan situs prasejarah di wilayah Pegunungan Meratus. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan pendekatan etnoarkeologi, sedangkan teknik pengambilan data dilakukan dengan metode survei dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di sepanjang Pegunungan Meratus sisi timur berdiam beberapa jenis subsuku, yaitu Dayak Banjar, Dayak Meratus atau Dayak Bukit, serta Dayak Dusun. Ketiganya mempunyai konsep religi dan peralatan upacara yang hampir sama, sehingga digeneralisasi sebagai Dayak Meratus. Ada kesinambungan konsep kepercayaan Dayak Meratus dengan konsep kepercayaan prasejarah, yaitu pemujaan roh leluhur dan penggunaan bekal kubur dalam upacara kematian. Sebagian besar peralatan upacara terbuat dari dedaunan, kayu, dan bambu yang cepat hancur, sebagian kecil terbuat dari logam dan keramik.

Kata kunci : religi, peralatan, upacara, Dayak Meratus, etnoarkeologi

Sumber : Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, hlm. 95-120
Email: tatitati_balar@gmail.com

Abstract. This article is examined Dayaknese who have been dwelling at the eastern side of Meratus in the District of Hulu Kelumpang, Hampang, Kelumpang Barat, and Sungai Durian in the district of Kotabaru. They live in the valleys and river banks, in the far distance. Dayak Meratus quite unique because they speak Banjar. Most of them still follow ancestral beliefs, while some have embraced the new religion. This research was initiated on the question of how the concept of religious and traditional equipments of Dayak Meratus and its continuity with the prehistoric period. The purpose of this research is to create an ethnoarchaological research model which can be applied to the similar environmental and cultural system in accordance with the terms of analogy, as supporting data in analyzing and interpreting religious aspect from the findings of prehistoric sites in the Meratus region. The method used is descriptive comparative with ethnoarchaeological approach, while the collecting data technique is conducted by survey and interview. The results show that along the east side Meratus are dwelled some sub-tribes, such as Dayak Banjar, Dayak Meratus or Dayak Bukit, and Dayak Dusun. Those three sub-tribes have similar concept of religious and ceremonial equipments, so it can be generalized as Dayak Meratus. There is a continuity of the religious concept of Dayak Meratus with prehistoric belief, i.e. the concept of worship ancestral spirits and the use of burial gifts in funerals The most ceremonial equipments are made of leaves, wood and bamboo which are quickly destroyed, a few tools are made of metal and ceramic.

Keywords: religion, equipment, ceremony, Dayak Meratus, ethnoarchaeology

Source: Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, p. 95-120
Email : tatitati_balar@gmail.com

 Page 1 of 2  1  2 »