Archive for September, 2015

Ida Bagus Putu Prajna Yogi 

Abstrak Awal kedatangan masyarakat Tionghoa di Banjarmasin karena aktivitas perdagangan. Jalur transportasi yang digunakan adalah sungai. Oleh karena itu, pemukiman cenderung terkonsentrasi di wilayah daerah aliran sungai besar, yaitu di daerah Veteran, Gedangan, dan RK Ilir yang berada di sepanjang Sungai Martapura, Banjarmasin. Joglo gudang adalah salah satu budaya yang muncul dalam masyarakat Tionghoa di Kalimantan Selatan. Artikel ini akan membicarakan sejarah pemakaian arsitektur joglo gudang tersebut dan alasan dipilihnya bentuk joglo gudang sebagai bentuk tempat tinggal mereka. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analitis. Kombinasi unsur lokal genius dari masyarakat Tionghoa dalam mendirikan usaha perumahan dan sikap adaptif untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan di Kalimantan yang berair dan menghasilkan bentuk baru arsitektur tradisional masyarakat Banjar, disebut joglo gudang.

Kata kunci: Cina, arsitektur, Banjar, akulturasi, sejarah

Sumber: Naditira Widya, Vol. 8 No. 2 Oktober, hlm. 69-76. ;ISSN 1410-0932
Email:bagoes_balar@gmail.com

Bambang Sugiyanto 

Abstrak. Sejak ditemukannya lukisan dinding gua untuk pertama kali pada tahun 1988 di Liang Kaung,Kalimantan Barat, yang kemudian diikuti dengan penemuan lukisan dinding lain di wilayah Kalimantan Timur, tampaknya temuan lukisan-lukisan di dinding gua di Kalimantan mulai bermunculan. Fenomena ini mungkin terjadi akibat dari semakin terbukanya kawasan hutan di sekitar pegunungan atau perbukitan karst yang ada. Terbukanya akses ini memudahkan kita untuk mengunjungi gua-gua yang banyak terdapat di pegunungan karst tersebut, dan akhirnya menemukan lukisan kuna pada dinding gua. Lukisan dinding dari bahan arang yang ditemukan di Bukit Bangkai, Kalimantan Selatan, merupakan salah satu temuan yang terbaru. Artikel ini akan membahas jenis lukisan dinding yang ada di gua dan ceruk di Bukit Bangkai. Pembahasan ini didasarkan pada pengamatan langsung terhadap motif gambar yang ada pada dinding gua, yang dilanjutkan studi pustaka, memperbandingkan dengan temuan yang sama di situs lainnya di Kalimantan. Kajian lukisan dinding gua ini menunjukkan bahwa jenis lukisan dinding gua di Bukit Bangkai hanya berwarna hitam dan dalam kondisi kabur.

Kata Kunci : lukisan dinding, Bukit Bangkai, Kalimantan Selatan

Sumber: Naditira Widya, Vol. 8 No. 2 Oktober 2014, hlm. 59-68; ISSN 1410-0932
Email: bsugiyanto67@gmail.com

Bambang Sugiyanto 

Abstrak. Sungai Sembakung mengalir di wilayah Kabupaten Nunukan, melintasi tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Lumbis Ogong di hulu, Kecamatan Lumbis Induk, dan Kecamatan Sembakung. Di bagian hulu Sungai Sembakung merupakan pemukiman kelompok etnis Dayak Agabag (Tengalan) dan Dayak Tahol. Kedua subetnis ini mempunyai tradisi penguburan yang unik, yang menarik untuk diungkapkan. Permasalahan dalam tulisan ini adalah bagaimana bentuk tradisi penguburan yang ada di DAS Sembakung? Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui tradisi penguburan yang ada di masyarakat Dayak Agabag (Tengalan) dan Tahol, terkait sejarah, konsep, dan lokasi DAS Sembakung. Metode pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan langsung di situs-situs kubur dan wawancara dengan tokoh terpilih yang mengetahui tradisi penguburan yang dimaksud. Hasil yang diharapkan adalah informasi yang jelas tentang bentuk tradisi penguburan di DAS Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Kata kunci: tradisi penguburan, Sungai Sembakung, Kalimantan Utara

Sumber : Naditira Widya, Vol. 8 No. 1 April 2014, Hlm. 29-48; ISSN 1410-0932
Email: bsugiyanto67@gmail.com

Hartatik 

 Abstrak. Suku Tidung merupakan salah satu suku asli Nunukan yang beragama Islam dan mengakui bahwa dirinya merupakan orang Dayak. Hal tersebut berbeda dengan suku lainnya yang telah memeluk Islam, biasanya tidak menganggap dirinya sebagai orang Dayak. Masalah dalam artikel ini adalah adakah hubungan antara suku Tidung dengan suku Dayak di wilayah Nunukan (Tahol, Tenggalan, dan Agabag)? Bagaimana perbandingan bahasa, data arkeologi, dan tradisi dapat menjadi data bantu untuk merekonstruksi sejarah dan perubahan budaya suku Tidung kaitannya dengan suku Dayak lainnya di Nunukan? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara suku Tidung dengan Dayak Tahol, Agabag, dan Tenggalan melalui perbandingan bahasa, data arkeologi, dan tradisi, serta peluangnya sebagai data bantu untuk merekonstruksi sejarah dan perubahan budayanya. Dari analisis perbandingan bahasa, tradisi, dan data arkeologi diketahui bahwa suku Tidung mempunyai persamaan yang signifikan dengan suku Dayak Tahol, Tenggalan, dan Agabag. Dari hasil perbandingan itu disimpulkan bahwa suku Tidung mempunyai hubungan dengan ketiga suku Dayak tersebut karena berasal dari rumpun yang sama. Suku Tidung mempunyai pergerakan yang lebih dinamis dari pada suku Dayak lainnya sehingga mereka menyebar jauh dari pedalaman dan melakukan kontak dengan pendatang muslim, sehingga kini suku Tidung pun identik dengan muslim.

Kata Kunci: bahasa, perbandingan, Tidung, Dayak, muslim, tradisi, data arkeologi

Sumber : Naditira Widya, Vol. 8 No. 1 April 2014, Hlm. 29-48; ISSN 1410-0932
Email: tati_balar@yahoo.com

 

Deni Sutrisna

Abstrak Banten dalam beragam aspeknya merupakan sebuah kawasan yang cocok untuk analisis sejarah Nusantara. Pandangan umum tentang Kesultanan Banten tampak dengan ciri-ciri yang sama dengan kesultanan di Sumatera, tetapi Banten menampilkan suatu kekhasan dengan posisinya yang berada di perbatasan antara dua tradisi utama Nusantara, yaitu tradisi kerajaan Jawa dan tempat perdagangan Melayu. Khusus tradisi tempat perdagangan Melayu, masih menyisakan suatu daerah budaya Melayu yang hingga kini bertahan di tanah Banten, yaitu komunitas Melayu Lampung di Kampung Cikoneng. Keberadaannya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pasang surut dinamika hubungan Lampung sebagai daerah taklukan maupun sebagai sumber komoditi (penghasil) lada yang membuat mahsyur Banten di mata dunia. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah dengan menelusuri data lewat laporan penelitian, buku, dan internet. Dari uraian paparan tulisan diketahui bahwa keberadaan Melayu Lampung di tanah Banten disebabkan hubungan erat yang telah terjalin lama antara penguasa Banten dengan orang Lampung melalui kegiatan perdagangan.

 Kata kunci: Banten, Melayu, kesultanan, perdagangan

Sumber: Naditira Widya, Vol. 8 No. 1 April 2014, Hlm. 19-28; ISSN 1410-0932
Email:sutrisnadeni@yahoo.com

Libra Hari Inagurasi

Abstrak. Indonesia merupakan negara agraris, oleh sebab itu pertanian padi menjadi sektor penting. Hingga saat ini bercocok tanam padi menjadi matapencaharaian penduduk di Indonesia. Karawang, merupakan salah satu contoh daerah penghasil padi. Karawang, sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, posisi geografis berada didataran rendah, berbatasan dengan pantai utara Jawa. Sebagian besar lahan tanah di Karawang difungsikan sebagai persawahan padi. Dilihat dari perkembangannya, bercocok tanam padi telah dikenal di Indonesia sejak awal Masehi. Seiring dengan dikenalnya bercocok tanam padi maka manusia dengan kemampuannya menciptakan jenis-jenis bangunan untuk pertanian padi. Dilihat dari perkembangannya, bangunan air di Indonesia terdiri dari bangunan tradisional dibangun oleh penduduk lokal, dan bangunan air Eropa yang dibangun oleh orang-orang Belanda. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan jenis-jenis peninggalan-peninggalan bangunan air Eropa dan untuk mengetahui lebih jauh fungsi bangunan pada pertanian padi di Karawang. Data-data pada tulisan ini diperoleh melalui survei yang dilaksanakan pada tahun 2013. Penyajian pengetahuan tentang bangunan air Eropa dalam tulisan ini dilakukan pula dengan penelusuran, pendeskripsian pada dokumen yang sezaman yakni Memorie Residen Karawang dan Batavia. Didalam tulisan ini telah berhasil diungkap beberapa macam dan kegunaan bangunan-bangunan air Eropa Belanda untuk irigasi dan pengairan sawah di Karawang, yakni kawasan bendung, pintu air, kanal di Walahar, dan di Dawuan.

 Kata Kunci: Karawang, Hindia Belanda, bangunan air Eropa, pertanian padi

Sumber: Naditira Widya, Vol. 8 No.1 April 2014, Hlm. 9-18; ISSN 1410-0932
Email: librainagruasi@yahoo.com

E-Museum: Komodifikasi Informasi Koleksi Museum

Ulce Oktrivia

Abstrak. Dewasa ini informasi dapat menyebar dalam hitungan detik tanpa terbatas pada ruang dan waktu. Setiap orang di penjuru dunia dapat mengakses informasi dari seluruh dunia dengan hanya duduk di dalam rumah. Museum sebagai lembaga yang bertugas untuk kepentingan studi, pendidikan, dan kesenangan juga dituntut untuk menyebarkan informasi dengan cepat dan akurat. Salah satu cara agar informasi yang dimiliki oleh museum dapat diakses dengan cepat dan kurat adalah dengan e-museum. Permasalahan yang muncul adalah bagaimanakah bentuk e-museum, apakah yang menjadi prioritas isi dari e-musem, dan bagaimanakah museum mengatasi dampak yang timbul sebagai akibat dari e-museum. Makalah ini bersifat dikriptif komparatif. Segala data tentang e-musem akan dibandingkan. Data yang digunakan adalah data pustaka baik dari buku maupun internet. Hasil dari desk research ini adalah dua buah bentuk e-museum yaitu e-musem berbentuk web site yang sudah banyak digunakan dan e-musem berbasis sistem informasi geografis. Isi dari e-museum akan lebih baik jika difokuskan pada data mengenai seluruh koleksi museum beserta kesejarahanya. Hadirnya museum mungkin saja membuat orang tidak perlu datang ke museum, namun cukup dengan mengakses internet. Oleh sebab itu, museum dituntut untuk lebih interkatif dengan memberikan workshop singkat kepada pengunjung museum.

Kata kunci: museum, e-museum, teknologi informasi

Sumber: Naditira Widya, Vol. 8 No.1 April 2014, Hlm. 1-8; ISSN 1410-0932
Email: ulce.oktrivia@gmail.com

 Page 3 of 3 « 1  2  3