Archive for September, 2015

Bambang Sugiyanto

Since the first discovery of rock arts at Liang Kaung (West Kalimantan) in 1988, and was followed by the discovery of rock arts in East Kalimantan, it is apparently that rock arts began to emerge. This phenomenon may be a result of cleared forest at surrounding mountains or karst hills. The new access allowed us to explore the caves and found the ancient paintings on the cave walls. The paintings of charcoal material have been found in Bukit Bangkai, as the latest findings. This article will discuss the type of rock arts in Bukit Bangkai. The discussion is based on direct observation of the existing image motifs on the walls of the cave, which continued by studying literature to compare with similar findings in other sites in Borneo. The study of these rock arts indicates that the rock arts type at Bukit Bangkai has only in black and in hazy conditions.

Keywords: rock-art, Bukit Bangkai, South Kalimantan

Source: Naditira Widya, Vol. 8 No. 2 Oktober 2014, p. 59-68.

Bambang Sugiyanto


 Sembakung river flows in Nunukan region and goes across three districts, Lumbis Ogong, Lumbis, and Sembakung. In the upper of the Sembakung river, there are settlements of Dayak ethnic groups, Dayak Agabag (Tengalan) and Dayak Tahol. Both sub-ethnic groups have a unique burial tradition, and interesting to be studied. The problem will be answered in this article is the forms of burial tradition that abide along the Sembakung watershed. The purpose is to determine the burial tradition of Dayak Agabag (Tengalan) and Tahol, which are related to its history, concepts, and location. The method of data collection has been conducted by direct observation on the grave sites and direct interview with elected leaders who have known for a fact of the burial tradition. The expected result is evidently information about the forms of burial tradition along the Sembakung river, Nunukan, North Kalimantan.

 Keywords: burial tradition, Sembakung river, North Kalimantan

Source: Naditira Widya, Vol. 8 No. 1 April 2014, p. 49-58


Tidung is one of the indigenous moslem Nunukan and admits as Dayak. It is different from other people who have embraced Islam, usually do not consider theirselve as Dayak. The problema in this article are there a relationship between the Tidung and Dayak (Tahol, Tenggalan, and Agabag) in Nunukan, what is the ratio of language, archeological data and traditions can be accessibility data to reconstruct the history and culture change of Tidung relation to other Dayak in Nunukan ?. The purpose of this study was to determine whether there is a relationship between the Tidung and Dayak (Tahol, Agabag, and Tenggalan) through language comparison, the data of archeology and tradition, as well as the chances of data help to reconstruct the history and culture change. From these comparative analysis, it is known that Tidung has significant similarities with the Dayak Tahol, Tenggalan, and Agabag. It is concluded that Tidung has a relationship with the Dayak because it comes from the same family. Nevertheless, Tidung have more dynamic movement than Dayak so that they spread away from the interior and make contact with Muslim immigrants. Finally, Tidung people were synonymous with Moslem.

Keywords: language, comparison, Tidung, Dayak, Moslem, traditions, archaeological data

Source: Naditira Widya, Vol. 8 No. 1 April 2014, p. 29-48

Deni Sutrisna

In various aspects, Banten is a suitable area for the Nusantara historic analysis. Generally, view of the sultanate characteristics of Banten appears similar to the sultanate in Sumatra, however, Banten displays a quirk in the line positition among the two main traditions of Nusantara, the Javanese royal tradition and the Malay tradition of trading venue. The special trading venue of Malay tradition that still endure on the land of Banten is the Lampung Malay community in Kampung Cikoneng. The existence of this community becomes an integral part of the tidal dynamics as a conquered areas as well as a pepper producer who makes Banten famous around the world. The method used in this paper is by tracing the data through research reports, books, and the internet. Finally, it is recognized that the exposure Malay Lampung in Banten has been affected by the close relationship through trading activities since a long time ago.

Keywords: Banten, Malay, sultanate, trade

Source: Naditira Widya, Vol. 8 No. 1 April 2014, p. 9-18

Libra Hari Inagurasi

 Indonesia is an agrarian country, and rice cultivation is an important sector. Agriculture has been the main subsistence of the Indonesian up until now. Karawang is one of the rice log regions in this country. Karawang, which is a regency of Jawa Barat Province has been located at the lowland and bordered by the northern cost of Java. Most of the lands in Karawang are functioned as rice fields. The development shows that rice cultivation has been practiced in Indonesia since early century AD. Along with the knowledge of rice cultivation, people created several types of buildings related to rice cultivation, including waterworks. The waterworks in Indonesia consisted of traditional buildings made by the local inhabitants and European-type waterworks made by the Dutch people. This article is aimed at describing the types of European waterworks as well as examining more thoroughly their function in relation to rice cultivation in Karawang. The data are obtained from a survey carried out in 2013 and from documents from the same period, which is Memorie Residen Karawang dan Batavia (Memory of the Regent of Karawang and Batavia). This article reveals various types and functions of European (Dutch) waterworks for irrigation of rice fields in Karawang, which are dams, sluicegates, and canals at Walahar and Dawuan.

 Key Words: Karawang, Dutch-Indies, European waterworks, rice cultivation

Source: Naditira Widya, Vol. 8 No. 1 April 2014, p. 9-18

Ulce Oktrivia

Currently, information is well disseminated through space and time. People can access information from all over the world by just sitting at home. Museum as an information resources aims at education and pleasure, besides is also required for disseminating information as fast and accurate. The methode for a fast and accurate access is with e-museum. Some problems emerge, such as how the form of the e-museum, what is the e-museum priority contents, and how to overcome the impact of the e-museum. This article is a descriptive comparative. Therefore all data of the e-museum will be compared. The data is gained from book references and the internet. There are two e-museum forms of this desk research, which are web site of e-museum that has been widely used, and e-museum based on geographic information systems. It would be better if e-museum contents are focused on the entire data collection and its history. The presence of e-museum may cause people do not want visiting museum while they can access it easily from the internet. Therefore, museum is demanded for being more interactive, by giving a short workshop to visitors.

Keywords: museum, e-museum, information technology

source: Naditira Widya, Vol. 8 No. 1 Oktober 2014, p. 1-8; ISSN 1410-0932


Abstrak. Sebagai insan cendekia yang mempelajari kehidupan masa lalu, arkeolog mempunyai tanggung jawab untuk menyusun dan menyebarkan informasi yang dihasilkan dari kajiannya kepada masyarakat. Beragam cara dapat dilakukan untuk dapat membagi informasi penting tentang kehidupan masa lalu tersebut, antara lain dengan publikasi hasil penelitian dalam bentuk berbagai terbitan (buku dan artikel), pameran, seminar, dan sosialisasi. Masih banyak cara lainnya yang bisa dilakukan oleh seorang arkeolog untuk membagi informasi kepada masyarakat. Dengan menggunakan sebuah organisasi profesi, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), terutama di Komisariat Daerah (Komda) Kalimantan, diharapkan peran arkeolog di masyarakat, khususnya Kalimantan, lebih dapat dirasakan. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis mencoba untuk membahas peran arkeolog terhadap keberadaan kurikulum 2013, yang mulai diberlakukan pada sekolah (SD, SMP, dan SMA) di Indonesia. Kurikulum pendidikan yang fokus pada pendidikan karakter dirasakan perlu diterapkan seiring dengan perubahan dan tuntutan yang berkembang saat ini. Tulisan ini bersifat deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka (buku dan koran), dan observasi terhadap kegiatan pengembangan yang dilakukan oleh institusi penelitian arkeologi di Kalimantan, yaitu Balai Arkeologi Banjarmasin dan kegiatan yang sudah dilakukan oleh IAAI Komda Kalimantan. Hasil penelusuran terhadap sumber tertulis dan observasi tersebut akan dievaluasi dan selanjutnya disusun kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh para arkeolog yang tergabung dalam IAAI (Komda Kalimatan) untuk berperan lebih aktif dalam pelaksanaan kurikulum 2013.

Kata Kunci : arkeologi, budaya, Kalimantan, publikasi, kurikulum, pendidikan

Sumber: Naditira Widya, Vol. 8 No. 2 Oktober 2014, hlm. 127-134; ISSN 1410-0932


Abstrak. Tulisan ini akan membahas tema dalam penelitian arkeologi di Balai Arkeologi Banjarmasin yang dianggap belum tuntas sehingga perlu dikaji dengan menggunakan perspektif yang berbeda. Data yang digunakan adalah laporan penelitian yang mengkaji situs hanya dari satu sudut pandang tanpa mencoba untuk melanjutkan penelitiannya dengan menggunakan perspektif yang berbeda. Oleh karena itu, sebuah penelitian belum bisa dikatakan telah tuntas apabila keluasan perspektif kajian pada sebuah situs belum komprehensif. Selanjutnya, tulisan akan disusun dengan melihat realitas penelitian arkeologi pada Balai Arkeologi Banjarmasin untuk kemudian dipetakan. Dengan cara ini akan terlihat adanya kecenderungan model atau tema penelitiannya. Dari sini kemudian perlu dilihat pengembangan yang masih mungkin dilakukan. Sementara itu, dari model penelitian yang pernah dan telah dilakukan, juga dievaluasi untuk menemukan langkah-langkah yang semestinya dijalankan. Kajian ini diharapkan dapat menghasilkan peta kecenderungan model penelitian arkeologi sehingga dapat direncanakan bentuk penelitian lanjutan yang bersifat memperdalam pengetahuan. Dengan demikian akan dapat dihasilkan penelitian arkeologi yang komprehensif.

Kata kunci: hasil penelitian, evaluasi, Balai Arkeologi Banjarmasin

Sumber: Naditira Widya, Vol. 8 No. 2 Oktober 2014, hlm. 105-126; ISSN 1410-0932


Abstrak. Sumberdaya arkeologi sering diabaikan oleh masyarakat karena ketidakpahaman masyarakat tentang arti penting sumberdaya tersebut. Lembaga kebudayaan milik pemerintah, terutama Balai Arkeologi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya merupakan motor penggerak pengelolaan sumberdaya arkeologi yang mempunyai tanggung jawab untuk menginformasikan keberadaan dan nilai penting sumberdaya arkeologi kepada masyarakat. Berbagai sosialisasi hasil penelitian yang merupakan bagian dari pengembangan kegiatan penelitian telah dilakukan, tetapi hasil kerja lembaga kebudayaan milik pemerintah tersebut belum dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Akibatnya, pengelolaan sumberdaya arkeologi seolah menjadi beban tunggal pemerintah. Permasalahan dalam tulisan ini adalah apa yang seharusnya dilakukan oleh lembaga kebudayaan untuk menarik masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya arkeologi? Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui apa yang seharusnya dilakukan oleh lembaga kebudayaan supaya masyarakat sebagai pemilik budaya tertarik dan terlibat dalam pengelolaan sumberdaya arkeologi. Metode pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan pengamatan selama penulis bekerja di Balai Arkeologi Banjarmasin dari tahun 1999 sampai dengan 2014. Metode analisis data dilakukan secara deskriptif dengan penalaran induktif. Hasil dari tulisan ini adalah nilai penting sumberdaya arkeologi harus dipertahankan dengan melakukan sinergi antara lembaga pengelola kebudayaan dan masyarakat secara efektif dan efisien. Selain itu, perlunya instansi pengelola kebudayaan dalam satu garis komando, sehingga akan memudahan koordinasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kinerja.

 Kata Kunci : pengelolaan, sumberdaya arkeologi, masyarakat, paradigma, penelitian, pelestarian

Sumber : Naditira Widya, Vol. 8 No. 2 April 2014, Hlm. 95-104; ISSN 1410-0932


Abstrak. Kerajaan Islam Banjar yang pada masa lalu wilayah pengaruhnya mencakup Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan sebagian Kalimantan Timur sekarang, menjadi fokus kajian tulisan ini. Penelitian ini bertujuan untuk menyingkap bagaimana dan dari mana ia sebagai sebuah pranata politik mendapatkan sumber legitimasinya. Dari sini diharapkan dapat memberi manfaat berupa pemahaman baru bagi masyarakat terhadap masalah terkait. Metode penelitiannya sendiri menggunakan metodologi penelitian sejarah. Hasil penelitian memperlihatkan dinamika kesultanan tersebut, di mana ia kokoh bertahan saat setia pada tradisi sebagai sumber legitimasi, dan hancur lebur manakala bermain apidengan kekuatan asing yang sekuler. Negara tradisional ini kian menarik dicermati ketika wajahnya coba dimunculkan lagi dalam masa empat tahun belakangan oleh sementara “tutus” yang merasa sebagai ahli warisnya.

Kata Kunci: legitimasi politik, kesultanan, politik, kolonial, dinasti, konflik, tradisi, Banjar

Sumber: Naditira Widya, Vol. 8 No. 2 Oktober 2014, hlm. 77-94; ISSN 1410-0932

 Page 2 of 3 « 1  2  3 »